Bab 6 Kasus Nyonya Mallory

by Abarakwan 06:36,Dec 16,2020

Sebuah hunian asri berdiri megah dan elegan, suara kedua penghuninya bersahut-sahutan dengan kencang, sehingga berhasil mengalahkan suara kicauan puluhan burung nuri di rumah sebelahnya. Vista Del. Sol, terletak di Del. Sol. Avenue Kota California Amerika Serikat, perumahan elit nan asri dipenuhi beragam tanaman dan pepohonan rindang warna-warni yang dipelihara langsung oleh sang developer.

"Would you marry me?" Tanya Jaxon dengan nada dan wajah datar, untuk kedua kalinya pagi itu Jaxon melamar Maggie setelah usahanya yang serupa gagal dimalam sebelumnya.

"Again??" Jawab Maggie tak habis pikir. Bahkan baru lima belas menit yang lalu, pria berpiyama biru tua itu melamarnya di dapur. Saat ini, hanya dua langkah dari lokasi melamar sebelumnya, dengan wajah dan suara yang datar Jaxon melamarnya begitu saja. "Tak bisakah kau lebih romantis melamarku? Pria macam apa yang melamar seperti itu!"

"Last night?" Adalah jawaban pembelaan Jaxon, "aku melamarmu dengan candle light dinner!"

"Ya... tetapi tadi malam kau melamarku dengan inisiatif dari Hendrick, yang memberikanmu step-by-step guide dari ruang tamu! Kau kira aku tak tahu!" Omel Maggie dan berjalan menjauh dari kursi pantry yang terjejer dengan rapih di ruang dapur.

"Tapi aku yang usaha!"

"So?" Tanya Maggie cuek. Gadis itu semakin berani setelah mengetahui pria tampan, cerdas yang memiliki profesi sebagai pengacara top adalah penggemar nomor satunya. Jaxon sudah beberapa kaki melamar nya.

"Kenapa kau jadi keras kepala seperti ini Maggie, duku kau gadis yang polos dan penurut!"

"Ya, sampai kau menodai kepolosanku." Timpal Maggie tanpa menoleh.

"Lalu bagaimana dengan lamaranku?"

"Forget it! Setidaknya saat ini!" Teriak Maggie menjawab pertanyaan Jaxon sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
Jaxon mengumpat dengan keras, entah harus seperti apa lagi ia mencoba. Sejak tadi malam usahanya melamar Maggie selalu gagal, begitu pula dengan tumpukan kasus di ruang kerjanya yang selalu gagal ia pahami.

"Mungkin akan kuserahkan ke Hendrick kali ini, setidaknya aku butuh break setelah semua kegilaan ini," pikirnya menenggak habis jus jeruk kemasan yang tadi diminum Maggie.

"Hmm... Jus ini terasa berbeda!" Gumam Jaxon pelan dan memegangi kemasan jus dengan heran.

"Otakmu yang tak waras!!" Balas seorang pria yang berjalan mendekatinya. "Setidaknya jangan menjadi bodoh keterlaluan seperti ini karena Maggie! Bahkan kasusnya belum dimulai!"

"It does taste different!" Ucap Jaxon membela dan menyodorkan jus kemasan itu ke arah Hendrick, sahabatnya.

###

"Demi Tuhan Jaxon!! Hentikanlah kelakuan konyolmu!!" Teriak seorang perempuan berusia pertengahan dua puluh terhadap pria tegap di depannya. Pria berdarah Filipina dengan wajah tegas mempesona itu terlihat kecewa dengan reaksi sang perempuan. Perempuan yang ia cinta sepenuh hati, dan satu-satunya cinta yang pernah singgah di dalam hidupnya yang sangat keras--cinta pertamanya.

"Maka katakanlah "Iya" Maggie sayangku!" Pintanya dengan mata sendu kepada sang kekasih hati.

"Sudah kukatakan berkali-kali!! Aku belum siap untuk menikah!! Demi Tuhan!! Mereka bilang kau adalah seorang pengacara jenius!! Namun kau tak mengerti ucapanku!!" Teriak sang perempuan berambut cokelat sebahu dan mengenakan summer-dress chiffon berwarna pink, berjalan memasuki kamar pribadinya.

Dibanting pintu kamarnya keras-keras, pertanda ia kesal bukan main dengan kekasihnya yang hampir setiap hari melamarnya dengan berbagai cara; romantis, pemaksaan, marah-marah, dan sebagainya. Bahkan Jaxon pernah membawa pulang seekor anjing yang terluka, dan ia mengancam tidak akan membawa anjing itu ke klinik kalau Maggie tidak menerima pinangannya, yang tentu saja berhadiah tamparan maut dari perempuan muda itu.

"Ha..ha..ha..! kena batunya juga kau kawan!!" Ucap pria berambut pirang yang duduk di atas sofa dengan kaki terangkat di atas meja. Pria itu bersender santai sambil menikmati siaran drama live dengan aktor utama sahabatnya sendiri; Jaxon, ia tertawa terbahak-bahak saat melihat sang perfeksionis sekaligus sahabatnya ditolak untuk kesekian kalinya oleh sang cinta pertama.

"Kau tahu!! Aku mengutukmu memiliki kisah cinta yang lebih tragis dariku!!" Jawab Jaxon marah dan duduk di samping sang pirang--sahabat karibnya sejak masa remaja; Hendrick Rausch Hawkin, pria kelahiran San Jose dengan darah Celtic yang mengalir dari sang Ibu.

Hendrick selalu membanggakan dirinya terlihat persis seperti seorang highlander, ia pernah memanjangkan rambut pirang ikalnya dan menindik telinga kirinya yang dipasangi anting tribal dengan beberapa unsur mistis celtic kuno--namun kelakuan konyolnya itu berhadiah hukuman dari sang Ibu, berupa satu minggu membersihkan halaman depan rumah.

"Don't curse me man!! Lagipula.. Wanita akan datang dan pergi dengan sendirinya.. Just take it easy!!" Balasnya santai dan memejamkan matanya dengan kedua tangan menopang kepala yang disandarkan pada punggung sofa. Hendrick menangani kasus dengan santai pada awalnya, ia adalah seorang yang easy going dan cerdas, sampai ia mendengar lebih detil kasus baru yang ia dapat awal minggu ini. Ia mendadak memiliki kerutan di dahinya.

"Bagaimana kasus Nyonya Mallory?" Tanya Jaxon memandang serius ke arah Hendrick yang masih memejamkan matanya. Hendrick dengan rambut yang berantakan, akibat disisir asal dengan tangannya. Pria itu stress dan depresi menangani semua kasus yang ada di mejanya.

"Hmm... Lebih rumit dari lamaranmu yang selalu ditolak!! Hah!! Kenapa kau memberikanku kasus seperti ini!!" Geram Hendrick kesal.

"Ini kasus perceraian dan hak asuh biasa..! Kenapa kau mengeluh?" Balas Jaxon tak percaya dengan apa yang dikeluhkan sahabatnya. Selama ini Hendrick adalah satu-satunya orang yang bisa mengikuti ritme kerjanya, mereka berdua saling melengkapi dan menjadi duo pengacara terhandal di California. Jaxon mengandalkan Hendrick saat ini, ia memutuskan fokus dengan kehidupan romansanya.

"Hah... Kau belum dengar?? Oh ya.. Kau terlalu sibuk melamar Maggie dan tidak masuk ke kantor satu minggu lamanya!" Sindir Hendrick, "Nyonya Mallory digugat cerai Fred suaminya yang sekaligus meminta hak asuh putri semata wayang mereka; Sofia. Masalah menjadi besar saat dua hari setelah gugatan itu, Sofia menghilang- dan saat itu, Mallorylah yang merawatnya."

"Wow... Rumit man!" Simpati Jaxon pada kawannya dan menepuk bahu Hendrick perlahan, "apa rencanamu?"

"Well.. Aku akan ke rumah Mallory esok hari, dan bertanya lebih lanjut mengenai kronologi kehilangan Sofia--karena itu akan memberatkannya, bahkan bisa ke ranah pidana," jelas Hendrick lesu. Ia tak bersemangat dengan kasus ini.

"Hmm... Aku akan memberikan tiket Maroon5 pada Maggie besok, kuharap akan berhasil!!" Keluh Jaxon dan bersandar di samping Hendrick, menutup matanya--masih memikirkan strategi lamaran berikutnya untuk Maggie.

Hendrick hanya melirik sinis ke arah rekan kerjanya yang masih dipusingkan dengan Maggie, semua kasus yang datang akhirnya dilimpahkan ke mejanya. Jaxon untuk sementara tak bisa menangani kasus apapun sampai Maggie menerimanya. Semoga cepat, karena ia sendiri tak sanggup menangani semuanya.

Download APP, continue reading

Chapters

99