Bab 12 Orang Kaya (1)

by Riski saputro 15:39,Dec 04,2019
Pada saat ini, hatinya Monika perlahan-lahan dipenuhi dengan kemarahan yang tidak dapat dijelaskan. Kemarin aku bertemu dengannya di sebuah kafe yang berada di pusat kota. Aku melihatnya bersama dengan nyonya Fanny dengan senyuman masam di wajahnya. Karena Fanny adalah sahabatnya, pada saat itu dia menahankan dirinya agar tidak bertengkar dengannya. Namun hari ini, bertemu lagi dengannya di pesta koktail yang terbagus di dalam kota ini.

Monika tidak dapat menahankan dirinya untuk menarik napas sedalam-dalamnya. Dia sedang memegang patung Buddhanya Fanny…………

Pada saat ini, Jilson Lee mengenakan pakaian kamuflase dan sepasang sepatu bot di kakinya, yang dimana tampaknya tidak sesuai dengan para pemuda yang bersetelan ala-orang barat dan para wanita dengan gaun mewahnya di pesta koktail ini. Namun sebaliknya, wajahnya menampilkan senyuman betapa percaya dirinya, meletakkan kedua tangan dibelakang , dan berjalan dengan santai di pesta seakan-akan adalah tamu paling terhormat pada malam ini.

Senyuman yang angkuh itu, mau dilihat darimana pun terlihat tidak sopan. Keluarganya Fanny itu sangat terkenal. Dari perspektif matanya Monika, senyuman di wajahnya benar-benar tampan, bahkan setelah dia memegang patung Buddha nyonya besar itu, dia tanpa sadar menunjukkan senyum dengan penuh ambisi.

Jika bukan karena budidaya dirinya, aku benar-benar ingin berjalan kesana untuk menendangnya.

Dia pun tidak menyadari bahwa dia sedang menatapnya, dan masih berada di sana menikmati betapa dinginnya buffet makan malam pesta koktail tersebut.

“Siapakah orang ini?” Melihat sepasang mata Monika yang indah dan dingin sedang menatap lurus Jilson Lee, ekspresi wajahnya yang cantik sejenak menjadi jelas dan muram. Kris Chen mengikuti arah pandangannya Monika dan melihat Jilson Lee dengan pakaian kamuflasenya, dia pun sedikit mengkerutkan alisnya.

“Tidak tahu, pesta koktail hari ini pun diselenggarakan oleh keluargamu. Bukankah dia temanmu?” Yoni pun terkejut. Dia jarang melihat Monika menatap seseorang seperti ini.

“Aku bagaimana bisa memiliki teman seperti kampungan ini!” Suaranya Kris Chen merendah.

Semenjak ayahnya Monika pensiun dari kantor polisi, Monika sebagai anak kalangan orang kaya di kota ini, derajatnya secara perlahan-lahan menurun. Namun aura kemuliaannya masih menetap. Keluarga ibunya memiliki tujuh rantai kosmetik, dan penghasilan per-tahunannya juga tidak sedikit. Ditambah lagi dengan wajahnya yang memukau dan temperamen yang dingin, banyak putra orang kaya masih menginginkannya.

Kris Chen dan Yoni, kedua orang ini sama seperti mereka. Kekayaan Kris Chen menempati urutan kedua di kota ini. Dia bertanya pada dirinya apakah dia ingin mengejar Monika dan siapapun tidak ada menandinginya. Yoni adalah pelopor dibawah naungan Kris Chen, dia menahan dirinya untuk menyayangi Monika. Dia tahu bahwa Kris Chen itu tidak setia, dan meskipun dia mendambakan Monika, di luar pun masih memiliki banyak wanita, dan sampai sekarang hubungannya dengan beberapa wanita masih tidak jelas. Saat dia memiliki kesempatan, dia akan mendekati Monika, berpikir bahwa suatu hari dia bisa melepaskan dirinya dari naungan Kris Chen, dan seandainya suatu hari Monika tiba-tiba menyukainya kah?

Pada saat ini, melihat Monika tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Jilson Lee, kedua raut wajah orang itu berubah menjadi muram.

Berdiri di samping, si Lisa yang merupakan anak orang kaya pringkat ke-lima di kota, memegang sepasang lengan dan tertawa. Dia menikmati melihat adegan dua orang muda yang saling berantem dan saling cemburuan.

“ Tuan muda Chen, ayahmu adalah orang terkaya ke-dua di kota. Yang dia kenal pun adalah teman-teman yang sederajat dengan dirinya. Mereka yang hadir dalam pesta koktail pada hari ini, masing-masing berasal dari latar keluarga yang terkenal dan orang yang terkaya dan terhormat. Bahkan jika keluarga kalangan bawah memiliki puluhan juta asset, tapi bocah ini bahkan tidak mampu memakai Adidas ataupun Nike. Mungkin dia diam-diam menyelinap ke sini untuk mencuri makan malam gratis kah?” Yoni memikirkannya dan mengtakannya dengan cara yang aneh.

Pesta Koktail pada malam ini diselenggarakan untuk orang terkaya ke-dua di kota ini, yang dimana bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak teman dengan kekayaan dan kekuasaan , dan untuk mempereratkan hubungan persahabatan dengan teman yang memiliki pengaruh besar. Orang kaya saja yang diundang untuk makan. Pesta koktail ini pun memakai cara makan buffet. Makanan dan minuman di pesta tersebut semuanya gratis, dan semuanya apalagi adalah makanan dan minuman yang mewah. Ketika melihat Jilson Lee mengenakan pakaian kamuflase, Yoni segera berpikir dua kata ini, yaitu mecuri makanan.

“Yoni, sistem keamanan di keluargamu sudah menjelek.” Kris Chen senyum mengejek.

“Apa?” Wajahnya Yoni sejenak menjadi tidak enak dipandang.

Keluarga Kris Chen memiliki kekayaan empat puluh biliun rupiah. Mereka beroperasi berbagai bisnis di kota, seperti perumahan, mobil-mobilan, perdagangan pelabuhan dan berbagai usaha lainnya. Keluarga Yoni hanya memiliki hotel ini saja, dan kekayaannya hanya empat biliun rupiah. Alasan mengapa bisnis hotel ini masih laku itu semuanya bergantung pada keluarganya Kris Chen dan beberapa orang kaya di kota yang masih memperhatikannya. Pada saat ini, mendengar Kris Chen mengkritik begitu buruknya sistem keamanan rumahnya, bagaimana cara dia bisa menunjukkan wajahnya lagi.

Baru ingin menyerangnya, dia langsung melihat Monika membawa Angel berjalan menghadap ke arah Jilson Lee


"Fendi, kayaknya kita ini jodoh ya." Saat Jilson Lee sedang tertawa sambil menikmati buffet makanan barat yg dingin itu, Monika menarik Angel untuk berdiri di belakangnya dan dengan dinginnya mengatakan sesuatu.

"Jika tidak ada jodoh, bagaimana caranya kita bisa menjadi suami-istri?" Jilson Lee meletakkan sepasang tangannya ke belakang dan tersenyum.

Dia dari awal sudah melihat Monika, tapi malah berpura-pura tidak melihatnya. Karena Monika selalu memandang rendah dirinya, beberapa hari ini apapun yang dia kerjakan selalu dianggap remeh di matanya Monika, sehingga membuatnya merasa tidak puas dengan Monika. Lagipula dia di hatinya Monika adalah lelaki yang tidak berguna, buat apa dia harus merasa gugup di hadapannya? Perkataan apapun juga tidak berguna. Akan lebih baik jika Monika dengan matanya sendiri dapat melihat kekuatan dirinya.

Download APP, continue reading

Chapters

1252