Bab 2 Mengakui

by Winston 12:17,Jul 08,2020
Ibu itu melihat Tiano yang terbaring di lantai dengan sangat panik.
Sebelum Tiano tersadar, Ibu itu pun berlari menghampirinya.
“Anakku, anakku, ini benaran kamu?”
Ibu itu bersuara serak, membuat Tiano sangat tercengang.
Dia melihat sekilas beberapa laki-laki berkacamata hitam itu, tidak tahu harus melakukan apa.
“Ibu baru saja mengetahui kabar ini, langsung melepaskan semua pekerjaan dan datang kemari.”
Ibu itu meneteskan air mata dari ujung mata, menatap tubuh Tiano dari atas hingga bawah.
“Beritahu Ibu, apakah lukamu sudah membaik?”
Ibu?
Perempuan di depan menyebut dirinya sendiri dengan kata Ibu.
Tidak mungkin, Ayah dan Ibu Tiano selalu tinggal di desa, kini masih bercocok tanam di rumah.
Berpikir demikian, Tiano langsung mendorong Ibu itu pergi, menatapnya dengan terheran-heran.
“Kamu salah orang.”
“Anakku, kamu harus percaya padaku, aku memang Ibumu.”
Karena terlalu panik, kata-kata Ibu itu sangat belepotan, membuat Tiano semakin bingung.
Tiano mulai curiga apakah dirinya sedang bertemu penipu.
Sudah terpuruk seperti ini, Tiano sungguh tidak sadar dirinya begitu pantas ditipu.
“Aku tahu, saat ini kamu pasti sulit menerima kenyataan ini, tetapi aku membawa bukti.”
Ibu itu telah jauh lebih tenang, setelah terbatuk dua kali, seorang laki-laki paruh baya berjalan dari belakang.
“Apa kabar Tuan Tiano, namaku Leonard Lie, pengacara yang dipanggil Nyonya ini.”
Pengacara bernama Leonard Lie itu berkata dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam map dan menyodorkan pada Tiano.
“Ini adalah surat hasil tes laboratorium, dari pencocokan golongan darah, ditambah dengan tanda lahir yang ada pada tubuh kamu, bisa dibuktikan bahwa kamu memang anak dari Nyonya Su ini.”
Melihat hasil pencocokan di dokumen itu, Tiano tercengang.
Ibu itu mengusap air di ujung mata, kembali menarik tangan Tiano yang terluka secara perlahan.
“Anakku, jika bukan karena aku dan Ayahmu sibuk bisnis waktu itu, kamu tidak mungkin menjadi sasaran penculik anak. Selama bertahun-tahun, aku selalu mengutus orang mencari tahu keberadaanmu. Belasan tahun berlalu, akhirnya---“
Mungkin saja karena tidak tahan, ujung mata yang baru saja diusap kembali basah oleh air mata.
Tiano menatap tandatangan di dokumen itu, kini baru tahu ternyata Ayahnya bernama Harris He, dan Ibunya bernama Rossy Tsu.
“Saat ini Ayahmu sedang membicarakan bisnis di Amerika, malam ini dia akan datang untuk menjengukmu, dia sangat senang setelah mendengar kabar baik ini.”
Rossy berusaha menghibur Tiano.
Tetapi, meski kenyataan sudah di depan mata, Tiano tetap saja tidak bisa menerimanya.
Di dalam desanya, dia sudah tinggal bersama Ayah dan Ibu selama 20-an tahun, kini baru sadar ternyata mereka bukan orang tua kandungnya.
Tekanan berat ini membuat Tiano hanya bisa terbengong disana.
“Kalian keluar saja.”
Rossy tahu suasana hati Tiano sedang sangat rumit. Demi tidak mempengaruhinya, dia pun mengusir semua anak buah, meninggalkan dia dan Tiano di dalam kamar itu.
“Anakku, aku tahu beberapa tahun ini kamu sudah sangat menderita, juga tahu kini kamu sangat terluka saat mendengar kenyataan ini. Tetapi mulai hari ini, aku dan Ayahmu tidak akan membiarkanmu menderita lagi, kami berencana menebus segala kesalahan dengan baik.”
Sebelum mendatangi Tiano, Rossy sudah memeriksa keadaan keluarganya saat ini dan memahami kesulitan dalam hidupnya.
Tetapi meski dengan keadaan ekonomi yang buruk, Ayah Ibu Tiano tetap bisa membesarkan Tiano hingga seperti sekarang, hal ini membuat Rossy merasa sangat bersyukur.
Tiano tidak mengatakan apapun, hanya duduk murung di atas ranjang.
Saat ini dalam pikirannya terbayang wajah orang tua yang sudah membesarkannya selama 20 tahun, menerima pengakuan Ibu yang ada di depannya sama saja dengan meninggalkan keluarganya, ini sungguh tidak bisa dia terima.
“Jadi, kini kalian datang untuk mengajakku ikut bersama kalian dan meninggalkan Ayah Ibu yang sudah membesarkanku selama 20-an tahun?
Tiano mengangkat kepala, bertanya pada Rossy Tsu.
“Bukan begitu anakku, saat ini aku tidak berencana memintamu memaafkan kami, aku hanya berharap kamu bisa memberikan satu kesempatan lagi untuk kami, sudah satu kali kami meninggalkanmu, dan tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.”
Rossy kembali memeluknya, berkata sekata demi kata.
“Sebentar lagi aku akan meminta orang memindahkanmu ke rumah sakit terbaik untuk menjalankan perawatan, soal Ayah dan Ibumu, aku sudah mengutus orang kesana. Dalam waktu dua hari mereka akan dijemput kemari, tiba saatnya nanti baru kita bicarakan sama-sama, bagaimana menurutmu?
Rossy mengeluarkan sebuah kartu rekening bang dari saku, menyodorkannya pada Tiano.
“Disini ada uang 200 Miliar, ini adalah salah satu tebusan kecil dariku. Kamu gunakan dulu, jika tidak cukup katakan saja padaku.:
Tiano menatap kartu hitam di tangan, badan bergetar secara tak terkendali.
Ada 200 Miliar di dalam sana, dia memberinya begitu saja, tanpa ada sedikitpun ekspresi ragu.
“Kartu ini tidak menggunakan kode, kamu bisa mengaturnya sendiri.”
Rossy berkata dengan senang.
Bagi dia, uang 200 Miliar itu sungguh tidak seberapa.
“Aku mengerti, biarkan aku sendiri dulu.”
Tiano berkata dengan tenang pada Rossy.
Menghadapi goncangan yang begitu besar, dia merasa sangat tidak terbiasa.
Rossy menghentikan kata-kata yang masih ingin diucapkan, menatap anaknya sekilas.
“Baiklah, kamu istirahat yang baik, aku segera memberitahu orang untuk menguruskan prosedur pemindahan rumah sakit.”
Rossy melihatnya lagi, baru menutup pintu dan tiba di lorong.
“Ibu Tsu, mungkin saja anak Ibu belum terbiasa dengan semua ini, Ibu cukup berikan sedikit waktu untuk dia pertimbangkan saja.”
Pengacara berkata menenangkan Rossy.
“Saat masuk tadi, aku melihat anakku sedang diseret oleh seorang dokter. Aku ingin memintamu mencari tahu semua data dokter itu, aku ingin bertanya padanya, kenapa dia bersikap seperti itu pada anakku.”
Karena Tiano ada disana, Rossy tidak berani memberi reaksi berlebihan.
Baru bertemu anaknya saja sudah melihat kejadian seperti itu, mungkinkah tidak marah?
Ketahuilah kini Tiano adalah anak kandung Harris He, bisa-bisanya menerima perlakuan yang begitu kasar.
“Baiklah, Ibu Tsu.”
Pengacara itu menganggukkan kepala, lalu pergi terburu-buru.
Di sisi lain, Tiano sedang memegang kartu rekening itu sambil terbengong.
Orang yang bisa mengeluarkan uang 200 Miliar dengan begitu mudah, sudah pasti dari keluarga yang sangat kaya.
Mungkinkah, dirinya sungguh keturunan orang kaya?
Berpikir demikian, Tiano tiba-tiba tersenyum pahit.
Siapa yang menyangka, dirinya yang bahkan makan pun tidak pernah kenyang, kini menjadi orang kaya yang memiliki uang 200 Miliar.
Semua ini, sungguh seperti mimpi.

Download APP, continue reading

Chapters

200