Bab 4 Vicky Chu

by Winston 12:17,Jul 08,2020
Di dalam mobil, Tiano tidak tahan untuk melirik Vicky beberapa kali lagi.
Baju yang ketat, dipadani sehelai rok pendek, kaki mulus di bawah rok terlihat sangat indah.
Sekalipun posisi duduknya tidak cukup menggoda, tetapi modal yang dimiliki sudah sangat luar biasa.
“Ckckck, perempuan seperti ini, inilah selera orang kaya.”
Tiano berkata dalam hati.
Dibandingkan dengan mantan pacarnya Celine, Vicky Chu memiliki wajah yang lebih dewasa dan menggoda, terutama sepasang mata jernih dan tajam itu.
Jika bukan karena identitasnya telah berubah sekarang, Tiano mungkin saja tidak berani menatap perempuan itu langsung.
Sejak awal Vicky sudah menyadari tatapan Tiano.
Dia memalingkan wajah dengan ekspresi tersipu malu, kaki panjangnya digoyangkan perlahan di depan Tiano, berusaha agar tetap kalem.
Sikap salah tingkah seperti itulah, membuat hati Tiano semakin menggebu-gebu.
Vicky Chu adalah seorang perawat, menjaga pasien adalah tugas utamanya, berhadapan dengan tatapan seperti itu, dia sudah sangat terbiasa. Setiap kali menatapnya seperti itu, orang-orang pasti mengakui kecantikannya.
“Tuan Muda, jangan melihat terlalu lama, nanti mimisan loh.”
Vicky tiba-tiba menghadap Tiano dan berkata.
Nada bicara yang menggoda itu hampir membuat Tiano kehilangan kendali.
Tiano berusaha menenangkan diri, tiba-tiba tersenyum licik pada Vicky.
Mobil mereka tiba di depan mall terbesar pusat kota.
“Tuan Muda, sebelum ke kampus, Anda perlu membeli sepasang pakaian, dan juga handphone. Sebelum jam 8 malam sudah harus menungguku di depan gerbang kampus, ini adalah pesan dari Nyonya.”
Vicky Chu berpesan sambil memapah badan Tiano.
Hari ini bukan akhir pekan, orang yang datang ke mall juga tidak banyak.
Vicky Chu membawanya ke dalam lift, langsung naik ke lantai 5, tepatnya pusat penjualan handphone.
Tiba di lantai 5, Tiano segera berjalan menuju pusat penjualan handphone merek Apple.
Baru berjalan beberapa langkah, Vicky malah mencegatnya, dan membawanya ke toko handphone dengan merek yang tidak pernah didengarnya.
“Sial, handphone apa ini, jelek sekali.”
Tiano melihatnya dengan penuh remeh, semua handphone yang dijual berbentuk kotak, modelnya juga sangat kuno, sungguh tidak mungkin disukai.
Tetapi saat melihat angka pada label harga di sana, dia benar-benar terdiam.
“120 juta? Apakah handphone ini dibuat dari berlian?”
Melihat raut wajah terkejut Tiano, Vicky tertawa sambil menutup mulut.
Anak muda ini, kenapa tiba-tiba menjadi lucu sekali.
“Ini adalah handphone bisnis, bisa dikatakan sebagai Lamborghini di dunia handphone, Nyonya Su juga menggunakan merek ini, makanya berencana meminta Tuan memilih salah satu model dari merek ini juga.”
“Kamu, kamu juga menggunakan ini?” Tiano bertanya pada Vicky.
Vicky tersenyum pahit, lalu mengeluarkan iphone 6 miliknya.
Tiano merasa sangat terkejut, tetapi setelah itu diikuti pikiran kacau.
Perempuan seperti Vicky saja tidak berniat memanfaatkan dirinya, kenapa Celine yang merupakan pacarnya sendiri malah lengkah oleh harta kekayaan.
“Beli 3 handphone terbaru di toko Apple di samping, setelah mendapatannya segera menemuiku, aku yang bayar.”
Vicky hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apapun.
Dia hanya bekerja sebagai perawat pribadi Tiano, dia tidak mungkin terlalu banyak campur tangan.
Vicky melihatnya sekilas, lalu berjalan ke toko penjualan handphone Apple di samping.
Tiano tahu dirinya juga harus memiliki dua buah handphone bisnis itu, maka langsung menunjuk dua di antara semua yang dipajang, kemudian berkata pada pelayan toko: “Dua ini, mohon bungkus sekarang juga.”
Pelayan toko itu tidak langsung menjalankan perintah, melainkan berkata: “Tuan, silahkan berikan 2 juga dulu untukku, aku akan segera membukakan nota, lalu mengabarimu lagi. Saat ini tidak ada stok langsung di toko, bagaimana jika beberapa hari lagi kamu baru datang mengambilnya?”
Tiano terheran-heran: “Apa maksudnya?”
“Tuan, jangan berpura-pura lagi, lihatlah sendiri berapa harga kedua handphone yang kamu pilih, dan keduanya edisi terbatas. Ada tambahan batu safir di dalamnya, dengan total harga 400 juta. Menurutku begini saja, kamu keluarkan uang 4 juta dulu, aku bukakan nota yang lebih bagus agar kamu tidak merasa direndahkan.”
Pelayan toko itu melihat Tiano dengan sangat hina.
Cerita orang miskin membeli handphone mahal demi gengsi sudah seringkali dia temui.
Tiano sangat mengerti makna di balik perkataannya.
Dia sadar penampilannya sama sekali tidak seperti orang beruang, tanpa banyak berkata, langsung menghempaskan sebuah kartu ke atas meja.
“Debit saja.”
Pelayan itu menatap kartu di atas meja dengan dingin.
“Tuan, harganya 400 juta lebih loh, kamu yakin? Jika saldo di dalam tidak cukup, aku akan langsung mengusirmu keluar.”
“Jangan banyak bicara, silahkan gesek.”
Tiano terlihat mulai tidak sabar.
Pelayan toko melihatnya lagi, meski tidak senang, dia tetap mengambil kartu rekening bank itu.
Dia ingin tahu seberapa lama anak muda ini bisa bersandiwara.
“Masukkan kode.”
Setelah menyiapkan semuanya, pelayan toko menatap Tiano dengan sangat hina, tidak sabar untuk melihat bagaimana dia mengatasi kecanggungannya.
Tiano mengangguk dan mulai memasukkan kode.
Transaksi berhasil, pelayan toko tercengang melihat struk yang keluar dari dalam mesin.
Dia sama sekali tidak menyangka, anak muda yang kelihatan tidak ada apa-apanya itu memiliki uang sebanyak 400 juta, dan dia menghabiskan uang tanpa sedikitpun ragu.
Teringat sikap pada Tiano sebelumnya, wajahnya mulai mengeluarkan keringat dingin.
“Mohon tunggu sebentar, aku langsung ambilkan barangnya.”
Pelayan itu sungguh tidak menyangka penjualan terbesarnya jatuh pada orang yang tidak dihargai sama sekali.
Tiano malah tidak menyalahkannya, setelah menerima handphone langsung duduk di ruang tunggu.
“Bisa-bisanya benda ini menghabiskan uang sebanyak 400 juta, kehidupan orang kaya memang sulit diterka.”
Meski uang yang baru saja dihabiskan tidak mungkin bisa didapatkan jika dengan identitas sebelumnya, dia sama sekali tidak menyayangkannya.
Teringat dalam kartu masih tersisa saldo sekitar 200 Miliar, dia pun tersenyum.
Melihat sekilas Vicky Chu dari kejauhan, dalam hati mulai berkata-kata lagi, alangkah bagusnya jika perempuan itu pacarnya.
“Kakak Marvel, handphone baru ini sungguh enak digunakan.”
“Suka tidak? Jika suka gunakan saja dulu, belum lama Tiano bodoh itu memberikan sejumlah uang padaku, sekarang masih tersisa sedikit, nanti kita habiskan dengan buka kamar di hotel saja, hehe.”
“Aduh, jangan mengatakan itu di tempat umum seperti ini!”
Saat ini, sepasang laki-laki dan perempuan berjalan dari arah pintu depan.
Laki-laki itu adalah Marvel, orang sial yang telah menipu uang beli handphonenya.
Sedangkan di sampingnya, gadis yang bersandar dengannya adalah perempuan yang telah dia perjuangkan setengah mati.
“Celine---“
Tiano menyebut nama itu dengan tangan bergetar, jus buah dalam gelas langsung tumpah ke lantai.

Download APP, continue reading

Chapters

200