Bab 3 Ayah dan Ibu Kandung

by Winston 12:17,Jul 08,2020
Tiano sudah hidup susah sekitar 20 tahun, karena masalah uang, dia dipermainkan Marvel, dikhianati Celine, dan kini diseret oleh petugas rumah sakit.
Dulunya dia sendiri tidak pernah mampu menghidupi diri sendiri, membeli rumah, menikah, terasa seperti impian yang sangat bodoh.
Dia yang seperti itu malah menjadi keturunan orang kaya dalam sekejap tanpa memerlukan usaha apapun.
Permainan nasib hidup ini sungguh keterlaluan.
Tiano akhirnya mengerti, segera berteriak menghadap pintu kamar.
“Masuklah.”
Mendengar suara Tiano, Rossy Tsu yang sedang berdiskusi dengan pengacara segera masuk ke dalam.
Hati Rossy terasa tegang, dia tidak tahu jawaban seperti apa yang akan anaknya berikan.
“Kenyataan sudah di depan mata, aku juga tidak ingin banyak berkomentar. Mulai hari ini, aku akui kalian sebagai Ayah dan Ibu kandungku.”
Hati Rossy yang menggantung tinggi kini terasa sangat lega.
Jika tidak berbicara soal hubungan darah, mereka memang sangat asing, tatapan Tiano padanya tidak mengandung sedikitpun perasaan.
“Aku berharap kamu bisa melakukan seperti yang kamu katakan, yaitu menjemput Ayah dan Ibu asuhku kemari.”
Tiano tetap tidak bisa melupakan Ayah dan Ibu asuhnya.
Jelas-jelas tahu bukan anak kandung mereka, tetapi malah dibesarkan dengan penuh kasih, Tiano merasa terharu.
“Tenang saja anakku, aku sudah meminta orang pergi menjemput mereka, sebentar lagi akan sampai.
Tiano menganggukkan kepala, lanjut berkata.
“Tetapi untuk saat ini aku belum bisa memanggil kalian Ayah dan Ibu, setidaknya, aku harus menunggu Ayah dan Ibu asuhku datang, baru dibicarakan.”
“Baiklah, bagaimanapun kami pasti menghargai pilihanmu.”
Tiano menganggukkan kepala, mulai melamun melihat perempuan di depannya.
Saat ini, sebuah suara ketukan hak sepatu terdengar dari luar. Dia berhenti di depan pintu, lalu berbicara dengan sangat manis.
“Eh, apakah sekarang aku sudah boleh masuk?”
Rossy melihat sekilas pintu itu, lalu berkata: “Masuklah.”
Sebuah sosok perempuan cantik berjalan ke dalam kamar.
Perempuan itu berusia sekitar 20 tahun, mengenakan sehelai gaun terusan berwarna putih, semakin memancarkan keindahannya yang tidak tertandingi.
“Apa kabar Nyonya, apa kabar Tuan Muda.”
Perempuan itu tersenyum, kecantikan pipi yang dihiasi dandanan tipis itu membuat Tiano tidak mampu berkata-kata.
“Vicky, bagaimana proses pengurusan pemindahan rumah sakitnya?”
Rossy berbalik badan bertanya pada perempuan cantik bernama Vicky itu.
“Nyonya, semuanya sudah siap, mobil sudah menunggu di depan pintu rumah sakit. Satu kalimat dari Tuan Muda saja, kita langsung berangkat.”
Tiano menatap perempuan di depan dengan bengong, dalam hati terasa semakin heboh.
Dia penasaran sekali, siapa sebenarnya perempuan itu.
“Kalau begitu kamu tanyakan Tuan Muda dulu saja, nanti aku baru berbicara lagi dengannya, waktu kalian pasti sangat panjang loh."
Rossy mengucapkan sebuah kalimat yang bermakna sangat dalam.
Tiano bukan orang bodoh, kalimat berbunyi waktu masih panjang itu membuatnya berpikir kemana-mana.
“Apa kabar Tuan Muda, namaku Vicky Chu, aku adalah perawat pribadi Anda.”
Perawat?
Pribadi!
Terbayang situasi saat perempuan itu berpakaian vulgar dan memberinya suntikan, wajah Tiano langsung memerah.
“Vicky, untuk saat ini tolong jaga Tuan Muda dengan baik, kamu harus bertanggung jawab atas semua kesehariannya, harus dilakukan bersungguh-sungguh, penuhi semua keinginan dia, mengerti?”
Rossy berpesan dengan serius pada Vicky Chu.
Penuhi semua keinginan?
Meski kini Tiano tidak leluasa bergerak, tetapi----
“Nyonya, Anda tenang saja, aku akan menjaga Tuan Muda dengan sebaik mungkin.”
Vicky Chu berjanji dengan sangat yakin.
Dia berbalik badan melihat Tiano, melihatnya dari atas hingga bawah, kemudian mendekat.
“Tuan Muda, kain kasa di tanganmu tidak terikat dengan baik, akan sangat mudah terkontaminasi virus, Vicky bantu ya.”
Tiano tercengang, sebelum sadar, Vicky telah melepaskan kain kasa di tangannya.
Teknik membungkus luka yang terlatih, gerakan yang lembut, membuat hati Tiano sangat lembut.
Perempuan ini sungguh lemah lembut.
Rossy melihat semua kejadian itu, tersenyum sejenak, lalu pergi dari kamar sambil membawa beberapa pengawalnya.
……
Selesai membungkus luka, berkat bantuan Vicky, Tiano berjalan keluar kamar dengan penuh hati-hati.
Wangi parfum yang menggiurkan menusuk ke dalam hidung, membuat Tiano merasa tidak leluasa.
Dia memang sangat menikmatinya, tetapi juga tidak terlalu suka dirawat seperti itu.
“Aku bisa sendiri.”
Tiano berkata pada Vicky Chu.
“Tidak boleh, saat ini Tuan Muda belum bisa berdiri kokoh, aku harus memapahmu.”
Vicky tidak ingin Tiano mengalami kecelakaan karena kecerobohan kecil itu.
Dengan mempertimbangkan pekerjaan Vicky, Tiano juga tidak bisa mendesaknya.
Setelah meninggalkan kamar, Rossy dan beberapa pengawalnya sedang berdiri di lorong.
“Vicky, bawa Tuan Muda ke sanatorium.”
Sanatorium?
“Kenapa harus ke sanatorium?” Tiano bertanya dengan penuh heran.
“Tidak ditemukan masalah besar dalam tubuhmu lagi, kini waktunya Vicky menjagamu dengan baik. Akulah yang mendirikan sanatorium itu, Vicky Chu juga bekerja di dalamnya, biarkan saja dia yang menjagamu.”
Badan Tiano mengeluarkan keringat dingin, dalam hati berpikir kehidupan orang kaya memang berbeda, membangun sebuah rumah sakit seolah membangun rumah-rumahan bagi mereka.
“Tuan Muda, aku antar kamu naik mobil di bawah ya.”
Vicky berkata.
Tangan Tiano ditumpu ke bahu Vicky secara perlahan, kulit itu terasa sangat lembut baginya.
Membuat Tiano merasa ingin lanjut meraba kulit itu.
Setelah masuk mobil, Tiano tiba-tiba teringat sesuatu, langsung menoleh melihat Vicky dan bertanya.
“Bisakah antar aku ke kampus sebentar? Aku akan segera wisuda, tetapi belum menerima sertifikatnya, aku berencana mengambilnya dulu.”
“Sertifikat kelulusan?” Vicky Chu merasa semakin tidak mengerti, saat ini Tiano sudah menjadi orang kaya, kenapa masih mau mengambil benda seperti sertifikat kelulusan.
Dengan identitasnya seperti itu, entah berapa banyak perusahaan besar yang ingin menerimanya, sertifikat hanyalah bukti yang sama sekali tidak penting.

Download APP, continue reading

Chapters

200