Bab 5 Bertemu Kenalan

by Winston 12:17,Jul 08,2020
Sepertinya dua orang itu tidak melihatnya, mereka langsung berjalan memasuki toko handphone di samping.
Meski tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi saat melihat kejadian di depan mata, Tiano tetap saja merasa tidak senang.
Sebelumnya Celine telah berkata dengan sangat tidak berperasaan padanya, kini kenyataan sudah ada di depan.
Hanya saja jika dipikir-pikir, ini juga sesuatu yang baik, paling tidak bisa menggunakan uang beberapa juta demi melihat jelas seorang perempuan.
Kini dia tidak kekurangan yang lagi, tetapi Celine, adalah perempuan yang telah sangat dia pahami.
“Sayang, katamu mau membelikan tas terbaru untukku!”
“Tenang saja, setelah mengambil handphone aku akan langsung menemanimu memilihnya di atas, bagaimana?’
Marvel berkata sambil meraba kaki Celine dengan sangat arogan, pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada Tiano yang sedang duduk di ruang tunggu.
Dia tersenyum sambil menyenggol Celine.
“Yoo, bukankah ini Tiano. Kenapa tidak dirawat di rumah sakit, malah diusir pergi dengan luka di sekujur tubuh!”
Marvel merangkul Celine sambil berjalan ke hadapan Tiano, berkata dengan penuh sindiran.
“Tiano, jangan datang ke tempat seperti ini untuk mempermalukan diri, jangan sampai orang-orang berkata mahasiswa di kampus kita tidak ada bedanya dengan pengemis.”
Selesai berbicara, Celina sengaja mengeluarkan handphone edisi terbaru miliknya.
Menatapnya, hati Tiano tetap saja merasa terpukul.
Dia pernah mencintai perempuan itu dengan sungguh-sungguh, dan perempuan itu juga cinta pertamanya, sebagian kata sungguh tidak mampu diucapkannya.
Tetapi seperti apa pandangan Celine terhadapnya? Seorang pengemis? Seekor anjing?
Setelah memeras habis semua nilai dirinya, dia mendepaknya begitu saja.
“Katakan saja, apakah kamu bekerja sebagai penyebar brosur demi membayar biaya rumah sakit? Jangan cemas, Kakak saja yang membantumu, berikan saja dua lembar brosur untukku, aku akan belanja di tokomu.”
Melihat tumpukan barang yang dipegang Tiano, Marvel yakin dia bekerja sebagai pembagi brosur.
“Aku datang membeli handphone.”
Tiano menjawab dengan sangat tenang.
Dia tidak ingin banyak perhitungan dengan Marvel, begitu pula dengan Celine, yang sudah berlalu biarlah berlalu.
Sikapnya malah membuat Celine sangat tidak senang.
Dia sudah menganggap Tiano sebagai seekor anjing, seekor anjing yang sangat patuh, yang selalu menjilat mukanya demi membujuk rayu, dia sudah sangat terbiasa dengan semua itu.
Tetapi kini, Tiano malah tidak mengatakan apapun, seolah sangat asing dengan dirinya.
Kebanggaan dalam hati membuat Celine tidak mampu menerimanya.
Dia menatap Tiano dengan sangat remeh.
“Tiano, jangan kira aku tidak tahu, kamu pasti terus mengikuti kami kan? Marvel memegang uangmu, kamu merasa tidak rela kan? Makanya berencana merebut uang itu kembali?”
Setelah mendengarnya Marvel pun tertawa.
“Tiano, jika memang seperti itu, maka aku harus ucapkan mohon maaf, aku sudah membelikan handphone untuk Celine, dengan begitu uangmu pun tidak ada lagi, tidak ada gunanya kamu menagih padaku. Tetapi jika kamu mengaku sebagai pengemis, aku bisa-bisa saja memberikan 400 ribu untuk kamu makan. Karena kondisi tubuhmu memang tidak sehat kan!”
Selesai berkata, Marvel mengeluarkan 4 lembar uang seratusan, dan membuangnya ke lantai.
“Mohon maaf, tanganku terlalu licin, kamu pungut sendiri ya.”
Melihat 4 lembar uang di atas lantai, Tiano tidak kuat menahan tawa.
Jika dulu, dia mungkin saja akan membungkukkan badan dan merendahkan diri demi mengambil uang itu.
Tetapi kini, dia tidak akan melakukannya.
“Kenapa, bukankah kamu sangat memerlukan uang, bukankah tinggal dipungut saja.”
Kata Marvel menyindir.
Tiano tahu Ayah Marvel membuka usaha di bidang properti.
Karena bisnis properti beberapa tahun terakhir semakin maju, Ayahnya memanfaatkan kesempatan dengan membangun beberapa gedung bertingkat.
Jika tidak salah, jumlah harta kekayaam keluarga mereka mencapai ratusan Miliar.
Sebelumnya, Tiano memang tidak berdaya melawan semua itu.
Tetapi kini, dia bukan lagi Tiano yang dulu.
“Lebih baik simpan untuk kamu sendiri! Dan juga Celine, aku bisa disini karena kebebasanku, ini bukan rumah kalian, kenapa aku tidak boleh datang?”
Tiano membalas mereka tanpa sedikitpun rasa sungkan.
Melihat Tiano tidak menghargai dirinya, raut wajah Marvel yang sombong pun berubah.
Dia menatap Tiano, bersiap-siap meneriakinya, tetapi malah dicegat Celine.
Di saat inilah pelayan toko yang menjualkan handphone untuk Tiano menghampiri.
Karena terlalu tegang tadi, dia bahkan kelupaan memberikan souvenir dari toko untuk Tiano.
Melihat pelayan perempuan yang datang, Marvel mengira Tiano adalah karyawan toko mereka, sontak meluapkan emosi.
“Bagaimana cara toko kalian mencari karyawan? Cepat usir orang yang tidak tahu diri ini. Aku beritahu kamu, jika toko kalian masih ingin dibuka disini, cepat usir dia pergi!”
Pelayan itu tercengang, lalu tersenyum sangat ramah.
“Mohon maaf, Tuan Lin adalah tamu terhormat di toko kami, bukan karyawan kami.”
“Tamu terhormat? Anak muda ini bisa dikatakan sebagai tamu terhormat?”
Marvel tertawa lepas memegangi perut.
“Nona, ada hubungan apa Tiano denganmu? Kenapa kamu begitu membelanya. Sekalipun menjual ginjal, dia tetap saja tidak mampu membeli handphone ini.!”
Celine menambahkan dari samping.
“Jadi begitu, baru saja Tuan ini sudah membeli dua buah handphone dari toko kami. Kali ini aku datang demi membawakan hadiah dari toko untuknya.”
Selesai berkata, pelayan toko menyodorkan sebuah kotak pada Tiano.
“Tuan, Anda baru saja berbelanja sebanyak 400 juta, ini adalah satu set mangkok keramik yang dihadiahkan toko kami.”
Pelayan toko itu berkata sambil melirik Marvel dan lainnya dengan ujung mata.
“Menjijikkan, demi menentang kami, bisa-bisanya kamu membeli pelayan toko ini.”
Tatapan Celine pada Tiano menjadi semakin hina, dia segera menarik pergi Marvel yang tercengang disana.
Marvel pun tidak percaya Tiano bisa mengeluarkan uang 400 juta dalam seketika, dia juga yakin Tiano sudah sepakat dengan pelayan toko itu.
“Sayang, untung saja aku sudah meninggalkan orang ini sejak awal, sungguh tidak menyangka dia akan seperti ini.”
Celine menggandeng tangan Marvel sambil berkata dengan mesra.
Suasana hati Marvel sangat rumit, segera melepaskan tangan Celine darinya.
“Sayang, jangan marah! Kamu akan selalu memiliki kesempatan untuk membereskan Tiano.”
Melihat ekspresi panik pada wajah Celine, dalam hati Tiano merasa sangat puas.

Download APP, continue reading

Chapters

200