Bab 3 Berjuang untuk bangkit kembali (1)

by JavAlius 21:42,Feb 29,2020
Hari itu, aku menangis sangat lama, aku menangis hingga air mataku habis, suaraku habis, hingga tidak ada lagi kesadaran.

Beberapa malam selanjutnya, aku selalu bermimpi buruk, hingga sakit parah. Didalam otakku hanyalah kejadian dimana ibuku menusuk orang menggunakan belati, aku merasa mimpi buruk ini tidak pernah lepas dariku, seperti merasa ada yang mencekikku dan tidak mau lepas, aku merasa sesak dan tidak dapat bernafas, nafasku tidak beraturan, lalu terbangun karena rasa sakit itu datang lagi, setelah tersadar aku diganggu oleh orang yang mengejekku tentang kejadian dimana ibuku menusuk orang, terus begitu aku berada di lingkaran jahat ini. Aku tidak dapat kabur, dan tidak dapat lepas dari bayangan hitam besar ini.

Saat aku dengan sulit dapat menyembuhkan kesadaranku, hatiku merasa sakit lagi, aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkan perasaan ini, aku merasa seperti hatiku terjebak oleh ribuan perasaan disaat yang sama, bersalah, putus asa, kesepian, penderitaan, penyesalan, sedih, ketakutan, sunyi dingin…

Dari kecil hingga dewasa, aku selalu tinggal di rumah yang dipenuhi kehangatan, ibuku memberiku lingkungan kehidupan yang paling baik, memberikanku segalanya, aku terbiasa dengan nyawan, terbiasa bergantung dengan ibuku, jadi, saat aku menghadapi pengalaman mengerikan ini sendiri, saat ibuku menggunakan cara ini meninggalkanku, mentalku hampir gila, duniaku memasuki dunia yang gelap, aku tidak pernah keluar dari jalan gelap ini.

Beberapa hari kemudian, saat aku akhirnya tersadar dari ini, aku baru menyadari, selama ini yang menjaga diriku, adalah Fetrin.

Fetrin adalah asisten kesayangan ibuku dia mengikuti ibuku sejak dia wisuda, sekarang sudah berumur 30 tahun, dia sangat tulus bekerja dengan ibuku, mengurusi pekerjaan yang ibuku berikan. Mungkin dikarenakan dua sifat yang sama, sama-sama dingin, kuat dan membenci pria, sehingga selain pekerjaan, mereka berdua seperti saudara. Fetrin juga orang yang memiliki pemikiran untuk hidup sendiri, sudah 30 tahun dan dia belum pernah pacaran.

Melihat fetrin, reaksi pertamaku adalah bertanya padanya: “bagaimana keadaan ibuku?”

Fetrin melihat keadaanku sudah stabil, dia merasa sangat gembira, dia merasa bahagia dan langsung mengatakan: “akhirnya kamu sadar, kamu membuatku sangat kaget, kalau kamu ada apa-apa, aku tidak tau harus bagaimana menghadapi ibumu!”

Aku menatap Fetrin dan bertanya sekali lagi: “tolong beritahu aku, bagaimana keadaan ibuku?”

Raut wajah fetrin langsung berubah, dengan serius mengatakan keadaan ibuku. Dia memberitahu aku, ibuku masih ditahan di pusat penahanan, 4 orang yang menculik ibuku, akhirnya 2 orang tewas dan 2 orang terluka, walaupun ibuku juga seorang korban, dikarenakan banyak kerugian yang disebabkan, perlakuan ibuku menjadi tindakan yang perlu diawasi, Cuma, hasil hukuman, akan diputuskan oleh hakim. Fetrin berkata, dia sudah mengundang pengacara yang paling bagus, menyuruhku untuk tidak perlu khawatir.

Bagaimana mungkin aku tidak khawatir, ibuku tidak akan lolos dari hukuman penjara, demi aku, dia sudah membunuh orang, dia masih harus masuk penjara, sakit yang begitu dalam ini, bagaimana bisa aku terima!

Kali ini, hatiku dipenuhi emosi yang tak terhitung, aku merasa diselimuti oleh kegelapan, masalah ini terlalu kejam, aku tidak ingin menerimanya, tidak ingin menghadapinya, jika semua ini hanyalah mimpi, pasti akan sangat baik!

Fetrin lanjut berbicara denganku, tapi aku sudah tidak mendengarkan lagi, aku juga tidak mengucapkan satu katapun, hanya tenggelam dalam kegelapan.

Waktu yang sangat panjang ini, aku selalu menghindar, menghindari kenyataan, menghindari kenyataan yang mengerikan ini, aku seperti hidup dalam keadaan kosong dan hampa, aku seperti kehilangan jiwaku. Aku juga tidak pernah kembali ke rumah dimana kasus itu terjadi, rumah itu memiliki kenangan yang sangat mengerikan, aku tidak berani pergi, tidak berani menghadapi. Sampai, aku tidak pernah berbaur dengan orang lain, selain fetrin.

Fetrin adalah orang yang ibuku khusus menugaskan dia untuk menjagaku, dia juga sudah berusaha dengan maksimal, menjagaku hingga hal kecil. Dia membawaku ke rumah, merawatku seperti merawat anak sendiri, hanya, aku tidak menghadapinya dengan baik, aku hanya mengurung diri di dalam rumah, melewati hari seperti mayat berjalan. Aku tidak berbicara, wajahku tidak ada ekspresi, tidak keluar rumah satu langkahpun, seperti kura-kura yang bersembunyi dalam cangkang, hanya melarikan diri, dan menyia-nyiakan hidup.

Satu bulan kemudian, hukuman ibuku sudah diputuskan, dia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, keputusan ini, membuatku gila lagi, wajahku yang tidak ada ekspresi, dan lagi dipenuhi dengan penderitaan yang sangat dalam, hatiku tidak berhenti diisi dengan rasa penyesalan dan bersalah. Aku membenci diriku sendiri, menyalahkan diri sendiri, aku yang menyakiti ibuku, aku yang merepotkannya, dia sebenarnya bisa melewati kehidupan dia sendiri yang bahagia, sekarang dia harus berada di dalam penjara yang gelap dan dingin selama 10 tahun, perasaan ini, bagaimana dia bisa menerimanya!

Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, aku tidak tahu bagaimana cara mengetahui kesakitan yang dialami ibuku, sedangkan diri sendiri masih dengan tenang hidup, aku lebih tidak bisa menerima, kenyataan dimana ibuku meninggalkanku, dia sudah pergi, imanku sudah benar-benar runtuh, aku tidak memiliki keberanian untuk hidup, dan tidak ada hak untuk hidup. Disaat aku menutup diriku sendiri, tidak berhenti depresi, tidak berhenti putus asa, aku benar-benar berubah menjadi sebuah orang yang tidak berguna, setiap hari hanya diam tinggal di dalam kamar, tidak berbicara satu kata pun.

Fetrin membujukku, menyemangatiku, aku malah tidak mendengarkan apapun, aku tenggelam dalam dunia kegagalanku, tidak bisa melepaskan diri sendiri!

Waktu seperti butiran pasir, tidak terasa, dua bulan sudah berlalu. Akhirnya ada satu hari, fetrin sudah tidak bisa menerima lagi, kesabarannya juga sudah habis, hampir setiap kali dia dipenuhi dengan emosi, menerobos masuk ke kamarku, menarikku dengan paksa keluar.

Aku seperti mayat hidup, gerak tidak bergerak. Emosi fetrin meledak, langsung menamparku, dan memarahiku: “tamparan ini, aku mewakilkan ibumu menamparmu, kamu benar-benar tidak berguna, ibumu setengah mati menyelamatimu, dengan begini kamu membalasnya? Kamu itu manusia bukan?”

Tiba-tiba, aku hanya merasakan rasa panas di wajahku, hatiku seperti ditusuk duri, tib-tiba merasa sangat sakit. Hanya, pandanganku masih tidak jelas, masih terbengong melihat fetrin, dengan gugup berkata: “aku bisa apa?”

Download APP, continue reading

Chapters

537